Home > Fiksi > Cintaku Tertinggal Di Barcelona

Cintaku Tertinggal Di Barcelona

Lampu indikator merah di dispenser itu mati. Artinya air di dalamnya sudah panas dan cukup untuk menyeduh secangkir teh tarik instant yang kubeli di kios rokok sebelah. Aku berjalan ke ruang tengah rumah yang juga berfungsi sebagai kantor itu. Ada tiga orang duduk di sana, dua menyimak semi final Liga Champions antara Barcelona Vs Internazionale, sementara yang satu lagi sedang serius dengan game poker di facebook. Aku meletakkan gelas teh tarikku di atas meja, mengambil sebatang Gudang Garam Filter dari bungkusnya, lalu menyalakannya.

Wasit meniup peluitnya. Pertandingan memasuki menit pertama. Anak-anak Catalunia langsung menyerang. Melalui tusukan dari sayap kiri melewati Douglas Maicon, Pedro Rodriguez melepas tembakan. Namun bola masih jauh dari sasaran. Seperempat jam laga berjalan, bola silang Christian Chivu dari sayap kiri mengarah ke gawang Barca. Namun Victor Valdes sang palang pintu terakhir Barcelona tak menemui kesulitan untuk menangkapnya.

Aku adalah pendukung setia Internazionale. Mestinya aku menyimak pertandingan hidup mati itu baik-baik. Kondisinya begini, Internazionale sudah unggul 3-1 di leg pertama. Itu berarti kemenangan 2-0 sudah cukup bagi Barcelona untuk melangkah ke final menantang Bayern Munchen yang sudah menyingkirkan Lyon di malam sebelumnya. Menang 2-0, sesuatu yang sangat mungkin diraih oleh tim luar angkasa macam Barcelona. Tapi entah kenapa aku tak bisa berkonsentrasi, mataku memang mengarah ke layar TV, tapi pikiranku tertuju ke pembicaraan sore sebelumnya, saat aku dan tiga temanku yang penulis sedang meeting di salah satu sudut Pejaten Village untuk persiapan World Book Day bulan depan.

“Aku akan menulis cerita baru.” Kataku pada teman yang duduk di sebelahku, satu-satunya laki-laki dalam meeting mendadak itu.
“Tentang apa?” Tanyanya.

Aku menunjukkan notes dalam handphone Nokia Xpress Musicku. Tertulis tujuh nama perempuan, di belakang tiap nama ada tanda kurung, dan di dalam tanda kurung itu ada judul lagu dan nama penyanyinya.

“Satu nama mewakili satu kisah cinta,” jelasku. “Dan tiap satu kisah cinta akan diakhiri dengan satu lagu.”
“Kumpulan cerpen?” Dia bertanya.
“Tepatnya kumpulan cerpen yang diracik menjadi satu cerita panjang.” Jawabku.
“Cerita panjang atau curhat panjang?”
“Hahaha..”

Bola silang dari Dani Alves diterima oleh Zlatan Ibrahimovic yang berdiri di kotak penalti. Ibra menyodorkan bola yang coba disambar oleh Xavi. Namun bek-bek Inter bisa mematahkan serangan itu. Selang dua menit kemudian, aksi Alves kembali menghadirkan ancaman. Umpannya disambar oleh Pedro. Namun sepakan pemain muda Barca ini masih melenceng di sebelah kiri gawang yang dikawal Julio Cesar. Dan tiga menit kemudian, Samuel Eto’o punya kans membobol gawang mantan klubnya. Skema serangan yang diawali dari bola dilepas Wesley Sneijder ke arah striker Kamerun yang tidak mendapat pengawalan ketat itu. Namun kontrol bola yang kurang baik dari Eto’o membuat peluang tersebut terbuang.

Alunan samar-samar No Fruits For Today dari komputer yang masih menyala di ruang editing makin mengganggu konsentrasiku. Pikiranku kembali tertuju ke proyek menulis cerita panjang yang memang rawan dicurigai sebagai curhat panjang itu.

”Slowly down the avenue
And the irony of liking you
What was to be some brand new shoes
Now them colour has come out pure blue

I’d love to love the sunshine thru
But love in doubt will not have two
The novelty will out last you
Comin’ down the ledge will do, see it thru, me and you..”

“Aku tahu lagu ini.” Kata temanku tadi.
“Judulnya No Fruits For Today. “ Jelasku. “Lagunya Sore yang masuk 200 lagu terbaik versi majalah Rolling Stone Indonesia.”
“Bukan itu maksudku,” tukasnya. “Aku tahu siapa nama yang kau maksud, meskipun kau sudah menyamarkannya.” Jawabnya sambil menunjuk layer handphoneku.
“Hmm..”
“Bukankah sekarang sudah tahun 2010, bro?” Tanyanya lagi.
“Lalu kenapa?”
“Kau bilang itu hanya kisah tentang jatuh cinta yang sudah so last year.”
“Semua yang akan kutulis adalah kisah so last year. Dan diantara semuanya, inilah yang paling tidak so last year.”
“Aku bingung.”
“Sama. Aku juga bingung menjelaskannya.”

Inter harus tampil sepuluh orang setelah Thiago Motta menerima kartu kuning kedua di menit ke-28 usai tangannya melayang ke arah muka Sergio Busquets. Unggul jumlah pemain, Barca mencoba semakin agresif. Lionel Messi, anak alien yang di perempat final mencetak empat gol ke gawang Arsenal itu melepaskan tembakan dari luar kotak penalti setelah berhasil melepaskan diri dari kawalan Walter Samuel. Namun upayanya bisa digagalkan oleh Julio Cesar.

”Bagaimana dengan fiksimu yang kemarin?” Kali ini temanku satu lagi, penulis cantik yang tak suka disebut cantik itu ikut bertanya.
“Yang mana?” Tanyaku sambil mematikan rokok di asbak.
“Tentang menembak perempuan lewat facebook?”
“Hahaha! Kau pikir aku benar-benar pernah melakukannya?”
“I don’t know, tapi itu terasa sangat nyata.”
“Itu fiksi. Aku belum sepengecut itu, Uni.”
“Percaya deh.” Jawab temanku yang kupanggil Uni itu.
“Sebenarnya tidak 100% fiksi sih,” aku terdiam sebentar, lalu mengambil sebatang rokok lagi dari bungkusnya, kemudian menyalakannya. ”Aku memang pernah mengirim relationship request ke facebooknya. Tapi itu hanya untuk riset.” Lanjutku.
“Riset what?”
“Riset untuk menulis cerpen itu dong.”
“Oh my God. Yang seperti itu kau katakan riset?”

Memasuki babak kedua, makin ketatnya tembok pertahanan Inter membuat pemain-pemain Barca kesulitan untuk menembus kotak penalti. Sejumlah bola-bola silang yang dilepas anak asuh Josep Guardiola juga berhasil dibuang oleh pemain belakang Inter. Sejumlah usaha yang dilakukan dari luar kotak penalti oleh para pemain The Catalans juga tidak ada yang menghadirkan ancaman berarti bagi Julio Cesar.

“Kau tahu rasanya kehilangan inspirasi?” Aku kembali bertanya, kali ini pada temanku yang satu lagi. Penulis absurd yang duduk di paling sudut dan sedari tadi belum mengeluarkan suaranya.
“No. Jelaskan.” Jawabnya.
“Saat kau bisa menulis puluhan cerita dalam setengah tahun, dan sekarang kau tak bisa lagi melakukannya. Cintamu, inspirasimu telah pergi dan terbang bersama cinta yang entah seperti apa. Dan kau tak bisa berbuat apa-apa.” Jawabku.
“Pertanyannya, kenapa dia pergi?”
“I don’t know.”
“Dia tidak pergi, dia tetap di jalannya. Kaulah yang terlalu naïf lalu berpikir kalau dia sudah pergi. Coba kau pikir lagi, apa yang sudah kau lakukan untuk menunjukkan cintamu?”

Upaya Barca baru membuahkan hasil tujuh menit menjelang bubaran melalui kaki Gerard Pique. Umpan terobosan Xavi berhasil dimanfaatkan bek bertubuh jangkung itu. Pique sempat dikejar oleh Ivan Cordoba dan ruang geraknya ditutup oleh Julio Cesar. Namun bek Spanyol itu memutar badan dan melesakkan bola ke gawang yang sudah kosong.

BARCELONA 1-0 INTERNAZIONALE
86’ PIQUE

Semangat Barca terlecut. Serangan ke arah gawang Inter semakin gencar. Sepakan Xavi Hernandez dari luar kotak penalti di menit ke-87 berhasil ditangkal oleh Julio Cesar. Selanjutnya giliran Messi yang melepas tendangan datar sukses juga ditangkap oleh penjaga gawang tim nasional Brazil itu.

“Kuulang pertanyaannya, apa yang sudah kau lakukan untuk menunjukkan cintamu?” Tanya temanku lagi.
“I don’t know.”
“Kau sudah pernah katakan cintamu?”
“Pernah.”
“So?”

Wasit akhirnya meniup peluit panjang tanda pertandingan berakhir. Arsitek Internazionale, Jose Mourinho langsung berteriak dan berlari menghambur ke tengah lapangan sambil mengangkat kedua tangannya. Victor Valdes, penjaga gawang Barcelona yang masih terlihat kecewa dan frustasi dengan kegagalan timnya melangkah ke final sempat emosi dan menghalangi lari sang allenatore. Namun pelatih berjuluk The Special One itu tidak peduli.

Malam itu, semangat pantang menyerah Barcelona akhirnya berhasil merobohkan tembok tebal di depan gawang Internazionale. Serangan dan tembakan berkali-kali dari berbagai arah, nyaris 90% gagal. Namun semangat yang ditunjukkan anak-anak asuhan Josep Guardiola itu patut diacungi jempol. Barcelona memang gagal melangkah ke final, namun satu-satunya gol dalam pertandingan itu memberiku pelajaran. Gagal di tembakan pertama bukan berarti gagal di tembakan kedua, ketiga, keempat dan selanjutnya. Pertanyaannya, pada tembakan keberapa kau akan berhasil?

Well, untuk pertanyaan yang ini, lagi-lagi dengan sangat berat hati aku akan menjawabnya, “I don’t know.”

FT BARCELONA 1 -0 INTERNAZIONALE
Aggregate 2-3

***

Jakarta, Mei 2010

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: