Home > Fiksi > Hatinya Berhenti Di Cintamu

Hatinya Berhenti Di Cintamu

“Ini pacarku. Kalian sudah berkenalan?” Tanyamu.

Setengah jam yang lalu kita tak sengaja bertemu di tempat ini, – sebuah café bernuansa art deco dengan patung dewa Hermes berdiri gagah di tengah ruangan. Kita bertiga duduk di meja yang letaknya di tengah ruangan. Kamu duduk bersebelahan dengan laki-laki itu. Sesekali kalian saling berpandangan dan melempar senyum yang artinya hanya dimengerti oleh kalian sendiri. Aku yang datang sendirian hanya bisa menatap iri dan sedikit cemburu dengan kemesraan itu.

“Saya Reza.” Kataku sambil mengulurkan tangan.
“Valent.” Sambut laki-laki ganteng yang kau kenalkan sebagai pacarmu itu.

“Aku mau ke toilet.” Katamu kemudian. “Kalian ngobrol-ngobrol saja, biar makin akrab.”
Kamu berdiri, lalu berjalan menuju pintu toilet yang letaknya di belakang meja bar. Meninggalkan aku dan laki-laki yang kau kenalkan sebagai pacarmu dalam sebuah hening yang cukup menggelisahkan.

“Sedikit permainan kecil untuk membunuh waktu, Val?” Tawarku memecah kebekuan.

Pacarmu mengangguk. Aku mengambil secarik kertas dari dalam tas, menuliskan sesuatu di atasnya, melipat kertas itu, lalu menyerahkan ke pacarmu.

“Simpan di sakumu, bro. Jangan dibaca dulu.” Kataku.

Pacarmu kembali mengangguk.

Aku meletakkan empat benda berjajar di atas meja. Sebuah gantungan kunci, gelas double espressoku, sebuah korek api dan sebungkus rokok menthol.

“Silahkan tunjuk dua benda yang tidak kau suka.” Kataku.

Pacarmu menunjuk korek api dan gantungan kunci. Aku menggeser dua benda itu ke kanan meja.

“Sekarang pilih salah satu.”

Pacarmu mengambil rokok, aku menggeser gelas double espressoku ke ujung meja.

“Nah, sekarang buka kertasnya, baca yang sudah saya tulis di situ.” Ujarku.

Pacarmu membuka kertas itu, dibacanya sebaris kalimat yang tadi kutulis;
MEROKOK DAPAT MENYEBABKAN KANKER, SERANGAN JANTUNG, IMPOTENSI DAN GANGGUAN KEHAMILAN DAN JANIN.

“Hahaha!” Pacarmu tertawa keras.
“I can read your mind!” Kataku sambil tersenyum.
“Hahaha!” Pacarmu kembali tergelak. “Nice trick, bro. Dan permainan inilah yang membuat aku jatuh cinta padanya.” Lanjutnya.
“What?” Tanyaku.
“Tiga bulan yang lalu dia juga nunjukin ini.” Jelasnya. “Saat itu gue bahkan menyangka dia bisa membaca hati dan pikiran gue. Lalu gue makin jatuh cinta pada hati dan kecantikannya. Lantas gue pikir, dialah orang yang selama ini gue cari. Dan gue bersyukur, ternyata dia juga merasakan hal yang sama.”

Aku terdiam mendengarnya. Tak menyangka kalau trik yang kuajarkan padamu setahun yang lalu itu telah berhasil membuat orang jatuh cinta. Pertanyaannya, mungkinkah saat itu kau juga jatuh cinta padaku? Saat aku mengajarkan via webcam trik sederhana itu?

***

Ditulis untuk Galuh Parantri

Categories: Fiksi Tags: , , , ,
  1. iyank
    16/09/2010 at 1:25 pm

    Hahaa.. Trik yang sama yang dipakai @dikiumbara malam itu di kedai Jus Sabang. Sesaat setelah kau pulang. Dan seperti yang duga, aku lgsg tau triknya #cerdas

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: