Home > Fiksi > Untitled

Untitled

“Aku kangen, kapan kamu main ke sini?” Tanya suara di telepon itu manja. Yang diajak bicara, sesosok siluet di sudut café itu terdiam, menghisap rokok mentholnya dalam-dalam, lalu menghembuskan asapnya dengan nikmat. Macbook di mejanya masih menyala, royal chococinno di gelasnya sudah tandas, asbak di depannya penuh dengan puntung rokok. Café sudah sepi. Namun sosok siluet itu bergeming dari tempat duduknya.

“Kalau tidak ada halangan, akhir bulan ini aku ke sana.” Jawab sosok itu lembut pada lawan bicaranya. “Belakangan pekerjaanku lagi gila-gilaan.” Sambungnya. “Nanti setelah semuanya selesai, aku pasti akan ke sana.” Lanjutnya kemudian.
“Janji?” Tanya suara di telepon.
“Janji.” Jawab sosok itu sambil menyilangkan jarinya. Sebuah tindakan absurd. Secara lawan bicaranya tak mungkin bisa melihat isyarat itu.
“Sebaiknya kamu jangan berjanji.” Lanjut suara di telepon.
“Kenapa?” Tanya sosok itu.
“Terakhir kali berjanji, kau mengingkarinya bukan?”
“Kapan?”
“Setengah tahun yang lalu, saat kita janji nonton New Moon.”
“Hahaha!” Sosok di café itu tergelak. “Kamu masih juga mengungkitnya? Hari itu aku ada urusan penting. Boss besar dari Singapura datang dan mengadakan meeting mendadak….”
“Sangat pentingkah sampai-sampai kau membatalkan janji yang sudah kita susun jauh-jauh hari?” potong suara di telepon.
“Sudahlah, bukankah aku sudah minta maaf?” Kata sosok itu pelan.
“Aku masih tidak terima.”
“Kamu marah, sayang?”
“Iya.”
“Aku suka kalau kamu marah.” Goda sosok di café. “Kamu jadi lucu, membuatku semakin kangen.”
“Dasar gombal.” Ujar suara di telepon.
“Tapi kamu suka kan?”
“Dasar Gemini.”
“Nggak nyambung ah. Memangnya ada apa dengan Gemini?” Tanya sosok di café heran.
“Labil.” Jawab suara di telepon.
“Hahaha!” Sosok di café kembali tergelak.
“Aku kangen sekali. Kalau kamu ke sini, aku bisa makan kamu bulat-bulat.”
“Wah, sadis.”
“Tapi kamu mau kan?” Tanya suara di telepon.

Sosok di café terdiam. Tatapan matanya kosong. Rautnya menggambarkan sebuah beban berat. Entah apa yang ada dia pikirkan. Sebuah lagu kemudian mengalun dari iPodnya. Hits dari The Virgin, band bentukan Dhani Ahmad di manajemen yang dinamai Republik Cinta itu.

“Kau kan selalu tersimpan di hatiku
Meski ragamu tak dapat ku miliki
Jiwaku kan selalu bersamamu
Meski kau tercipta bukan untukku..”

“Sayang, kau masih di situ kan?” Tanya suara di telepon.
“Eh, iya sayang. Maaf.” Jawab sosok di café gugup.
“Lagi ngapain barusan?”
“Enggg…”
“Pasti ngelamun.” Tukas suara di telepon.
“Iya, ngelamunin kamu.” Jawab sosok di café.
“Pasti ngelamun yang tidak-tidak.”
“Hahaha..” Siluet di café itu tergelak, untuk kesekian kalinya.
“Aku ngantuk, aku tidur dulu ya sayang.” Kata suara di telepon.
“Baik, sayang.”
“Cepat pulang, lalu istirahat. Kalau kerja jangan terlalu diforsir. Jangan lupa minum vitamin. Kurangi rokok, jangan terlalu banyak minum kopi.” Ujar suara di telepon serius.
“Terimakasih, sayang.” Kata siluet itu.
“I love you, Adam.”
“I love you too, Mario.”

Pembicaraan itu selesai. Adam menutup teleponnya dengan hati-hati. Jam di dinding hampir menunjukkan tengah malam. Café itu makin sepi. Lampu-lampu mulai dipadamkan. Adam berdiri dari duduknya, mematikan Macbook, memasukkannya ke dalam tas, lalu berjalan ke luar. Di headphone iPodnya, lagu The Virgin masih terdengar makin menyayat.

“Mengapa cinta ini terlarang
Saat kuyakini kaulah milikku
Mengapa cinta kita tak bisa bersatu
Saat kuyakin tak ada cinta selain dirimu..”

***

Ditulis untuk Chicko Handoyo Soe

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: