Home > Fiksi > Perihal Cinta

Perihal Cinta

“Kau tidak akan mengerti, Adam.” Kata Aura. “Sampai kapanpun kau tak akan mengerti.” Lanjutnya.
“Apa yang kau harapkan dari laki-laki yang tak lagi memikirkanmu barang sedetikpun? Sampai kapan kau akan menunggunya? Sampai lebaran kuda?” Tanya Adam ketus.
“Kau benar-benar tidak mengerti.” Ujar Aura.
“Mengerti apa?” Tanya Adam.
“Cinta.”
“Cinta bagaimana?” Nada bicara Adam semakin meninggi. “Cinta dari lelaki brengsek yang berpikir dengan mudahnya bisa berpindah dari satu perempuan ke perempuan lain?”
“Dia tidak seperti itu.”
“Oh, ayolah..”
“Itu namanya cinta, Adam. Kalau menurutmu, apa itu cinta?” Tanya Aura.

Adam tak pernah bisa menjawab pertanyaan itu. Yang dia tahu hanyalah dia sayang Aura, -gadis yang dikenalnya setahun yang lalu di perpustakaan nasional itu. Adam merasa nyaman saat di dekat Aura. Adam selalu peduli dengan Aura. Adam selalu ada saat Aura membutuhkannya. Dan yang paling penting, Adam ingin memiliki Aura sebagai kekasihnya. Sayang justru rasa ingin memiliki itulah yang tak pernah dianggap Aura sebagai cinta.

“Sepertinya memang ada yang salah, anak muda.” Kata kakek di pasar malam itu suatu ketika. “Ada satu elemen yang tak kau punyai. Elemen penting yang seharusnya wajib ada pada tiap manusia.” Lanjutnya.
“Tolong jelaskan secara sederhana, Kek.” Ujar Adam.
“Saya tidak melihat adanya cinta.” Terang si kakek.
“Lalu?” Tanya Adam.
“Tentu saja kau harus mencarinya.” Jawab kakek itu. “Kalau kau tetap diam, selamanya kau tak akan punya cinta.”
“Bagaimana saya harus mencarinya?”
“Sebelum mencari, kau harus memahaminya.”
“Maksud kakek? Memahami cinta?”
“Benar.”

Dorongan dari antrian di belakangnya membuat Adam tersadar dari lamunannya. Bis Transjakarta yang ditunggu-tunggu akhirnya datang. Orang-orang dengan raut yang sama, -lelah, stress dan penuh beban khas Jakarta – berebutan dan saling dorong saat memasuki bis. Seorang balita dalam gendongan ibunya menangis begitu kepalanya tak sengaja tersikut orang di sebelahnya. Adam menoleh sebentar, namun detik berikutnya dia langsung melangkah tidak peduli. Petugas menyilangkan tangannya di depan pintu masuk, isyarat agar antrian menunggu bis berikutnya. Pintu bis kemudian tertutup, Transjakarta melaju perlahan menuju Blok M. Adam berdiri di dekat pintu angkutan massal yang sudah penuh itu, tak ada tempat duduk tersisa.

“Duduk, mas?” Tawar pria separuh baya yang sedang membaca buku.
Adam menggeleng sopan, “Tidak. Terimakasih, Pak.”
“Duduk, mas? Saya sudah mau turun.” Kata seorang lelaki berkacamata, menyilakan kursinya untuk Adam.
Adam kembali menggeleng, “Tidak, terimakasih, Mas.”
“Duduk sini, bro. Biar gue berdiri.” Kali ini seorang pria gondrong bertato yang bicara. Lagi-lagi Adam menggeleng. “Tidak, terimakasih. Sebentar lagi saya turun kok.”
“Silakan duduk, mas. Saya mau turun di halte berikutnya.” Kata perempuan bersweater abu-abu itu sambil berdiri dari kursinya.
“Terimakasih, mbak. Saya juga turun dua halte lagi.” Tukas Adam mulai tidak sabar.

Aku masih muda dan kakiku lebih dari kuat untuk berdiri bahkan sampai halte terakhir. Kenapa orang-orang ini menyilakan tempat duduknya untukku? Tak biasanya seperti ini, pikir Adam.

Orang-orang yang tadi menawarkan tempat duduknya itu memandangi Adam dengan tatapan iba. Mungkin Adam belum menyadari, malam itu stiker yang tertempel di kaca bis Transjakarta berbunyi lain dari biasanya;

Berikan tempat duduk untuk lansia,
wanita hamil dan orang-orang yang tidak/belum mengerti cinta.

***
Jakarta, 23 Mei 2010.

Dedicated to Luckty Giyan Sukarno

Categories: Fiksi Tags: , , , ,
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: