Home > Fiksi > Kita Pernah Bercinta Dan Terekam Kamera

Kita Pernah Bercinta Dan Terekam Kamera

“Kenapa kalian baru pulang jam segini?” Teriak laki-laki tua itu dari depan pintu rumahnya sambil berkacak pinggang. Saya memandangnya takjub, sementara pacar saya yang ketakutan memilih langsung masuk ke dalam kamarnya tanpa banyak bicara lagi.

Laki-laki tua itu adalah ayah pacar saya.
Sejujurnya dari dulu saya tak pernah menyukainya. Manusia konservatif, feodal, egois, arogan, suka marah-marah tanpa alasan jelas, cenderung meremehkan, dan masih banyak lagi sifat-sifat kurang menyenangkan lainnya yang membuat saya ingin sekali melempar asbak ke mukanya.

“Macet, pak.” Jawab saya asal-asalan.
“Macet macam apa pula?” Bentaknya gusar. “Jam segini sudah nggak mungkin macet.”
“Tadi ada demo.”
“Kamu jangan mempermainkan saya. Mana ada demo tengah malam buta begini?”
“Tadi ada iring-iringan The Jak mengamuk di Senayan.”
“Sudah nggak ada pertandingan hari ini. Kamu pikir saya nggak tahu jadwal ISL?”
“Baiklah, tadi ada pawai sirkus.”
“!@#$^%”

“Memangnya kenapa sih, Pak?” Tanya saya. “Sekarang kan sudah tahun 2010. Masa jam pulang pacaran saja masih harus diatur?”
“Kurangajar kamu!” Teriakannya makin keras. “Mulai besok saya nggak akan ijinkan anak saya deket-deket kamu!”
“Ya sayangnya itu nggak mungkin.” Tantang saya.
“Saya akan jodohkan dia dengan seorang dokter, anak dari kolega saya. What do you think?” Tambahnya. Saya mengernyitkan kening heran, bisa-bisanya tua bangka keparat ini menambahkan pertanyaan ‘what do you think?’ pada percakapan seperti ini. Atau mungkin saja dia mengira ‘what do you think?’ sama artinya dengan ‘kamu mau apa?’

“Ya nggak bisa seperti itu dong.” Bantah saya. “Semua kan bisa dibicarakan baik-baik. Memangnya apa yang salah dengan saya sih, Pak?”
“Setan alas! Lalu kenapa kalau saya yang memilihkan jodoh buat anak saya? Saya punya hak penuh untuk masa depannya.” Ujarnya ketus.
“Saya dan anak bapak saling cinta. Tak mungkin kalau kami dijauhkan.” Tegas saya.
“Ngerti apa kamu tentang cinta? Saya ayahnya! Saya yang lebih ngerti cinta seperti apa yang lebih baik untuk anak saya! Mulai detik ini saya nggak mau lihat muka kamu lagi. Sana pergi!” Usirnya.
“Silakan ngomong sesuka bapak.” Balas saya tak mau kalah. “Yang jelas anak bapak tidak akan bisa lepas begitu saja dari saya.”
“Kenapa?” Tanyanya.
“Karena kami pernah bercinta dan sudah terekam kamera.”

Detik setelah aku selesai mengucapkan kalimat itu, laki-laki tua itu jatuh pingsan.

***

Categories: Fiksi Tags: , ,
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: