Home > Fiksi > Kita Lawan Bersama Dingin Dan Panas Dunia

Kita Lawan Bersama Dingin Dan Panas Dunia

“Tumben datang sendirian,” ujarku pada perempuan mungil berambut panjang lurus yang baru datang itu. Dia tidak menjawab, hanya mengangguk pelan sambil tersenyum ramah, kemudian mengambil tempat duduk di ujung ruangan. “Hot chocolate seperti biasanya?” tanyaku lagi. Dia mengangguk, meletakkan Blackberrynya di atas meja, mengambil sebuah buku dari dalam tasnya, kemudian mulai membaca.

Tiga minggu terakhir dia selalu datang ke coffeeshop ini. Paling sering datang berdua dengan pacarnya. Tak jarang juga dengan teman-temannya. Ini pertama kalinya aku melihat dia datang sendirian.

“Tumben datang sendirian,” ulangku. Aku kemudian meletakkan pesanannya di atas meja.
“Pacarku pergi,” jawabnya.
“HAH?”
“I mean, sedang bersama teman-temannya.”
“Oh.”
“Sudah kebal sih sebenarnya. Ini bukan pertama kalinya seperti ini.”
“Hmm..” Aku mulai berpikir, sesi curhat dimulai. “Teman-temanmu yang lain?” tanyaku lagi.
“Mereka juga ada acara sendiri-sendiri.”
“Tapi kau selalu memaafkannya bukan?” tanyaku.
“Siapa? Pacarku? Tentu saja!” jawabnya.
“Kenapa?”
“Sederhana kok,” jawabnya. “Karena aku mencintainya. Dan menurutku, cinta itu memaafkan. Aku tak ingin menambah panjang daftar orang-orang yang kubenci hanya gara-gara masalah sepele,” jelasnya kemudian.
“Hmm.. Kau setia juga ya rupanya,” ujarku.
“No!” bantahnya. “Ini tak ada hubungannya dengan setia.”
“Lalu?”
“Cinta.”
“Hmm…”
“Dan satu lagi,” ujarnya.
“Apa?” tanyaku.
“Mungkin ada banyak sekali laki-laki yang lebih pintar, lebih ganteng, lebih romantis, atau juga lebih kaya,” dia terdiam sejenak, kemudian melanjutkan bicaranya. “Tapi bukankah semuanya belum tentu bisa membuat kita nyaman?”
“Sebentar,” selaku. “Kenapa kau letakkan ‘pintar’ di urutan pertama?”
“Oh c’mon..” tukasnya.
“C’mon what?” tanyaku.
“Kalau pacarku sekedar ganteng, apa bedanya aku dengan jutaan perempuan lain di luar sana?” jelasnya.

Aku tersenyum dalam hati. Dia mulai menyesap minumannya. Dari speaker di sudut ruangan, radio sedang memutar lagu lama milik Sheila On 7.

“Eh, lagu ini,” tanyanya. “Apa judulnya??”
“Saat Aku Lanjut Usia.” jawabku.
“Ini lagu yang pernah pacarku suka,” katanya. “Bagaimana liriknya?”
“Genggam tanganku saat tubuhku terasa linu..” Tukasku. Perempuan itu tersenyum, lalu meneruskannya.
“Kupeluk erat tubuhmu saat dingin menyerangku..” katanya dengan suara pelan.

Aku tersenyum, kemudian berbalik menuju meja bar. Dari sudut mataku kulihat perempuan itu mulai membaca bukunya sambil bersenandung riang.

“Kita lawan bersama dingin dan panas dunia..”

***
Birthday notes for Putri Siska Ayu Jayadipa

  1. iyank
    16/09/2010 at 1:34 pm

    versi aku..
    Kalau aku tanya, apa kau mencintaiku karena aku cantik, apa bedanya aku dengan jutaan perempuan lain di luar sana?

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: