Home > Fiksi > Kisah Suatu Malam Di Bulan Desember

Kisah Suatu Malam Di Bulan Desember

Itu adalah sebuah malam minggu, tempatnya di sebuah tempat ngopi paling ‘gaul’ di kotaku. Sebelumnya akan kuceritakan sedikit tentang tempat itu. Bayangkan sebuah tempat terbuka yang cukup luas dengan banyak meja kayu rakitan dan kursi plastik. Di salah satu sudut, ada mobil van berwarna kuning gading yang berfungsi sebagai kasir dan kios penjual rokok. Di sudut yang lain, berjejer gerobak-gerobak penjual makanan. Mulai dari martabak telur, nasi goreng, bakmie, fuyunghai, pempek Palembang, sate ayam, tahu petis, sampai minuman-minuman ringan.

Kita sebut saja dia ‘perempuan yang membuatku jatuh cinta’.Itu adalah pertama kali aku melihatnya secara langsung. Maksudnya, sebelum ini aku hanya mengenalnya di facebook, hanya melihat foto-fotonya, menuliskan komen usil dan berharap dia menanggapi, terkadang juga sekedar mengklik ‘like’ di status-status absurdity romantic yang ditulisnya. Kalau tak salah ingat, hal itu berlangsung beberapa bulan. Sampai akhirnya, kami memutuskan bertemu dan melakukan kopi darat di tempat ini.

Dia datang bersama bersama tiga temannya. Seorang perempuan berambut pendek dan berkulit putih dengan wajah oriental, laki-laki tampan berperawakan tinggi kurus, dan laki-laki acak-acakan dengan penutup kepala dan jaket biru gelap. Tapi tentu saja bukan mereka bertiga yang paling aku ingat. Tapi kenyataan bahwa ternyata dia jauh lebih cantik dari yang kubayangkan. Selama sekian menit aku merasa salah tingkah dan tak bisa berkata-kata, namun sesekali melirik dan mengagumi segaris senyum dan lesung pipit yang menawan itu.

“Permainan kecil untuk uji adrenalin yuk.” Ajaknya.

“Boleh.” Aku mengangguk sedikit ragu. “Permainan apa?”

“ABC ada lima?”

“Hmm..”

“Judul lagu dan penyanyinya. Gimana?” Tanyanya lagi.

“Yang lain setuju nggak?”

Ketiga temannya mengangguk.

“Apa hukumannya buat yang kalah?” Tanyaku.

“Ikut menyanyi bersama pengamen-pengamen itu,” jawabnya sambil menunjuk serombongan pengamen yang sedang bernyanyi di depan salah satu meja. Ketiga temannya tertawa hampir berbarengan, tinggal aku yang akhirnya mengangguk pasrah dan berharap tidak kalah dalam permainan dengan tantangan yang cukup memalukan ini.

“Boleh deh.” Jawabku.

Aku tidak akan menceritakan detail dan kronologis permainannya. Yang jelas malam itu aku terhindar dari kekalahan. Respon dan memoriku rupanya sedang bekerja cukup baik untuk bisa menyebutkan dengan tepat judul lagu dan nama penyanyinya. Ketiga temannya juga tidak mengalami kesulitan berarti. Hasil akhir, justru dialah yang kalah dan harus menyanyi bersama pengamen-pengamen itu.

Dia kemudian berdiri dari tempat duduknya, lalu berjalan menuju rombongan pengamen itu tanpa ragu, diiringi tawa meledek dan senyum kemenangan dari aku dan ketiga temannya. Dan detik saat lagu yang dinyanyikannya itu mulai, hatiku sudah dipastikan jatuh cinta.

“Kau gadisku yang cantik

Coba lihat aku di sini

Di sini ada aku yang sayang padamu..

Kau gadisku yang cantik

Coba lihat aku di sini

Di sini ada aku yang cinta padamu..”

***

Ditulis untuk Fahrizal Tawakkal

Categories: Fiksi Tags: , , ,
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: