Home > Fiksi > Laki-laki Di Sel Paling Ujung

Laki-laki Di Sel Paling Ujung

Aku menyusuri koridor pengap dan remang-remang dengan deretan sel berjajar di kanan kiri itu dengan langkah ragu. Tapi pria berseragam di depanku terus berjalan seolah meyakinkan kalau tak ada yang perlu ditakutkan di sini. “Tenang saja, Pak.” katanya. “Tempat ini punya pengamanan berlapis. Bahkan seekor tikus pun tak bisa keluar hidup-hidup dari sini,” jelasnya sambil tersenyum penuh arti. Aku hanya mengangguk, lalu terus mengikuti langkahnya sampai di ruang sel paling ujung.

“Saudara Adam Pramudya. Ada tamu untuk Anda.” kata laki-laki berseragam itu seraya memutar anak kunci ke gembok yang melingkar di pintu sel. Penghuninya, seorang laki-laki berusia tigapuluhan, berambut gondrong acak-acakan, bertelanjang dada dan mengenakan celana jins robek, tampak sedang duduk di atas tempat tidurnya. Dia menatapku dengan pandangan tajam, namun tiga detik kemudian mengangguk dengan tegas, di bibirnya tersungging senyum ramah namun samar.

“Waktunya sepuluh menit, Pak.” kata laki-laki berseragam itu kepadaku. Aku kembali mengangguk. Dia kembali mengunci pintu sel, lalu berjalan menjauh dan menghilang dari pandanganku.

“Saya Yudhista, wartawan.” ujarku kepada lelaki di depanku. “Izinkan saya mengajukan beberapa pertanyaan. Saya harap Anda bisa bekerjasama, waktu saya tidak banyak. Oke?”
“Silakan.”
“Cerita yang Anda tulis,” ujarku sambil mulai mencatat di selembar kertas. “Sebenarnya apa yang Anda tulis sampai mereka merasa harus memenjarakan Anda di sini?”
“Kau belum membacanya?” tanyanya.
“Tidak sempat,” jawabku cepat. “Buku itu sudah keburu ditarik dari peredaran dan sekarang sulit sekali mencarinya. Mereka yang masih menyimpan, atau pernah membacanya juga lebih memilih bungkam.”
“Oh ya? Saya tidak menyangka kejadiannya akan seperti ini.”
“Tolong jelaskan saja. Apa yang anda tulis di buku itu?”
“Koran dan televisi juga tidak menyiarkan beritanya?”
“Tidak. Mereka hanya menyebutnya sebagai ‘buku terlarang’. Seorang penulis dijebloskan ke penjara setelah menulis sebuah buku terlarang, hanya itu. Mereka merahasiakan judul dan isinya.”
“Ya. Buku itu adalah novel perdana saya.”
“Novel?”
“Ya.”
“Bukan artikel, wacana politik, atau biografi tentang tokoh gerakan terlarang, yang selama ini diasumsikan oleh banyak orang?”
“Hanya novel.”
“Tentang apa?” tanyaku.
“Baik, akan kujelaskan,” jawabnya. “Tapi sebelumnya, coba kau ingat-ingat, kapan terakhir kali kau membaca kisah cinta?”
“Itu sudah lama sekali,” jawabku. “Sejak setahun silam, saya tak pernah lagi membaca kisah cinta.”
“Bagus.” tukasnya. “Sekarang coba kau ingat-ingat lagi. Ada berapa orang yang kau lihat di sepanjang koridor ini?”
“Di sini ada 22 sel bukan? 22 orang?”
“Benar, dan asal kau tahu, mereka semua dipenjara karena hal yang sama.”
“Dipenjara karena menulis?”
“Tepatnya, dipenjara karena menulis sesuatu.”
“Sesuatu apa?”
“Sesuatu yang sangat ditakuti oleh pemerintah saat ini.”
“Tentang pemberontakan? Penculikan Presiden?”
“Bukan. Sama sekali bukan itu.”
“Lalu?“
“Sebuah kisah cinta,” jawabnya setengah berbisik. “Sejak setahun yang lalu, para petinggi negara ini sudah terjangkit phobia pada indahnya kisah cinta.”

***

Categories: Fiksi Tags: , , ,
  1. 08/08/2010 at 6:37 am

    Aih! Singkat memikat.
    Imajinasiku tergelitik mulai bercerita sendiri.
    Sebuah lanjutan yg menduga-duga..
    Teka-teki yang asik🙂

    Salam,
    @Oddie__

  2. 19/08/2010 at 9:51 am

    Tepat, memukau.
    Salam Cinta..

  3. 06/09/2010 at 6:15 pm

    Nah gini dong sekali-kali, jangan gantung terus ah🙂

  4. teratai
    24/09/2010 at 8:48 am

    phobia..jauh-jauh yaa..
    #bacamantra

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: