Home > Fiksi > Siapa Pencuri Dokumen Rahasia

Siapa Pencuri Dokumen Rahasia

“Kalian semua!” bentak pria berseragam petugas itu pada tiga lelaki yang berdiri berbaris di depannya. “Waktu saya tidak banyak, anak muda. Jadi tolong kerjasamanya, sebisa mungkin saya tak akan menggunakan kekerasan,” sambungnya.

“Kamera keamanan museum ini berhasil merekam sosok yang mirip kalian sebagai pelakunya,” lanjut petugas itu. “Dan berdasarkan keterangan para saksi, kalian bertiga terlihat berkeliaran di sekitar tempat kejadian saat pencurian dokumen itu terjadi.”

“Ya, Pak. Kami mengerti,” tiga lelaki itu mengangguk dan menjawab bersamaan.

“Sekarang mengakulah, siapa diantara kalian pencurinya?”

“Begini, Pak..”, jawab tiga lelaki itu bersamaan.

“Satu-satu!” sergah si petugas. “Kalian tak menyuruh saya mendengar suara tumpang tindih bukan?”

“Baik, pak!” jawab ketiga lelaki itu serempak.

“Oke, mulai dari kamu! Silakan bercerita,” lanjut si petugas seraya menunjuk lelaki yang berdiri paling kiri.

*

Nama saya Radisa.

Saya barista di sebuah kedai kopi 24 jam. Setiap hari masuk di shift kedua, datang jam 10 malam dan pulang jam 6 pagi. Tak ada yang istimewa dengan pekerjaan saya. Hanya barista yang berbekal pengetahuan dasar selama training, sisanya tinggal mencontek di buku SOP. Di situ semuanya tertulis lengkap, mulai dari semua resep kopi yang ada di daftar menu hingga cara menghadapi berbagai tipe pelanggan. Cara tersenyum, cara bersikap, cara bicara, dan semua basa-basi yang bertujuan untuk meningkatkan penjualan, semuanya tertulis lengkap di buku itu. Kami, – maksud saya semua barista di kedai kopi itu hanya robot yang bergerak mengikuti instruksi buku manual. Sama sekali tak ada ruang bagi kami untuk berkreasi dan berinisiatif sendiri. Menu kopi yang kami sajikan juga tak ubahnya produk massal. Tak ada sedikitpun keunikan. Seperti minuman biasa, tanpa jiwa, tanpa emosi, tanpa makna dan tak berkarakter. Padahal saya yakin, tiap cangkir kopi seharusnya bisa memiliki kekuatan lebih dari itu.

Sampai akhirnya saya mendengar kabar itu, tentang dokumen kuno yang sedang dipamerkan di museum kota. Orang-orang mengatakan kalau isi dokumen itu adalah peta harta karun yang menunjukkan penyimpanan bibit tanaman kopi langka yang tinggal satu-satunya di dunia. Saya ingin memilikinya, dan dengan tanaman kopi langka itu, saya akan membuka kedai kopi sendiri, yang pasti akan jauh lebih baik dari kedai kopi busuk ini.

Tengah malam kemarin, saya menyusup ke museum untuk mencuri dokumen itu.

*

Nama saya Safran.

Saya pengangguran, namun jumlah rupiah di rekening saya sudah lebih dari cukup untuk biaya hidup bahkan sampai beberapa tahun ke depan. Kegiatan sehari-hari, saya menulis untuk sebuah situs cerita pendek. Satu hal yang perlu anda ketahui, saya adalah penulis yang terobsesi pada kisah-kisah tentang patah hati. Semua tulisan saya tak jauh dari hal-hal seperti itu. Kisah cinta bertepuk sebelah tangan, kisah seorang loser yang diputus secara sepihak dengan alasan tak masuk akal, terkadang juga tentang cinta yang tak direstui keluarga, seperti drama klasik Romeo dan Juliet.

Mudah ditebak, lama-lama saya bosan menulis cerita seperti itu. Saya ingin menulis cerita bahagia, yang bisa membuat orang-orang tertawa, atau setidaknya tersenyum sejenak untuk melupakan masalah mereka. Tapi saya tidak pernah bisa. Betapapun kerasnya saya berusaha, kisah-kisah yang saya tulis selalu berakhir dengan negatif. Kalau tidak darah ya airmata, hanya itu. Mungkin beberapa orang masih menyukainya, tapi saya tidak, saya sudah muak.

Sampai akhirnya saya mendengar kabar itu, tentang dokumen kuno yang sedang dipamerkan di museum kota. Desas-desus yang beredar mengatakan kalau isi dokumen itu adalah cara ampuh untuk membuat orang bahagia. Saya ingin memiliki dokumen itu. Saya ingin bisa menulis cerita bahagia, setidaknya sekali dalam seumur hidup saya.

Tengah malam kemarin, saya menyusup ke museum untuk mencuri dokumen itu.

*

Nama saya Nala.

Saya bekerja di sebuah toko barang antik. Secara spesifik, saya mengerjakan nyaris semua pekerjaan di toko itu. Mengepel lantai, mengelap kaca toko, membersihkan barang-barang antik dari debu, menerima telepon, sampai menangani kasir dan pembukuan. Awalnya saya cukup senang, bahkan merasa beruntung mendapat pekerjaan ini. Sebab sebelum diterima bekerja di sini saya sudah menganggur selama berbulan-bulan. Perusahaan tempat saya bekerja sebelum ini gulung tikar, dan otomatis saya juga  kehilangan pekerjaan. Saya sudah mencoba melamar kemana-mana, tapi semuanya gagal. Hanya toko inilah yang mau menerima saya.

Boss saya baik dan tak pernah sekalipun memarahi saya. Beliau bahkan sudah menganggap saya sebagai keluarga sendiri. Namun justru itu yang akhirnya menjadi masalah. Dianggap sebagai keluarga, gaji yang mestinya turun tiap awal bulan jadi sering ditunda, padahal biaya untuk kebutuhan hidup saya cukup banyak. Kalau saya tanyakan, boss saya selalu menjawab ringan, ‘Mohon pengertiannya, Nala. Bulan ini penjualan sepi. Untuk sementara, kamu tinggal di sini saja. Urusan makanan biar saya yang tanggung. Setidaknya kau tak perlu mengeluarkan biaya untuk sewa kamar dan uang makan.’  Gila! Mana bisa saya menerima penawaran konyol seperti itu.

Sampai akhirnya saya mendengar kabar itu, tentang dokumen kuno yang sedang dipamerkan di museum kota. Saya tidak peduli apa isinya. Yang jelas dokumen itu pasti bernilai sangat mahal kalau dijual ke kolektor. Dengan daftar kontak dan alamat para kolektor yang dapat dari pembukuan toko, rasanya tak sulit untuk menjualnya.

Tengah malam kemarin, saya menyusup ke museum untuk mencuri dokumen itu.

*

“Jadi kalian semua mengaku sebagai pencurinya, begitu?” tanya petugas itu.

“Benar, pak.” jawab ketiga lelaki itu bersamaan.

“Isi dokumen itu? Apakah sesuai dengan yang kalian bayangkan?”

“Rasanya tak perlu saya jawab,” jawab ketiga lelaki itu kembali bersamaan.

“Kalian membuat kepala saya makin pusing,” kata si petugas. “Lalu di mana sekarang dokumen itu kalian simpan?”

“Di sebuah safe deposit box, hanya bisa dibuka dengan kombinasi angka,” jawab ketiga lelaki itu.

“Jangan main-main! Tolong jawab dengan jelas, satu persatu-satu.”

“Di sebuah safe deposit box, hanya bisa dibuka dengan kombinasi angka,” tiga lelaki itu kembali menjawab bersamaan.

“Saya tidak mau berbasa-basi, cepat sebutkan kombinasi angkanya, atau pistol ini yang berbicara,” kata si petugas itu dengan nada gusar.

“Di sebuah safe deposit box, hanya bisa dibuka dengan kombinasi angka,”

“Di sebuah safe deposit box, hanya bisa dibuka dengan kombinasi angka,”

“Di sebuah safe deposit box, hanya bisa dibuka dengan kombinasi angka,”

DOR!

Petugas itu melepaskan tembakan. Lelaki yang berdiri di tengah langsung ambruk ke tanah dengan dada berlubang, tak ada darah yang keluar, tapi tembakan itu sudah cukup untuk membuatnya tak bernafas lagi.

“Saya sudah peringatkan ka…” petugas itu tidak melanjutkan bicaranya. Tembakannya ternyata tak hanya merobohkan satu orang, tapi ketiganya sekaligus. Semuanya terkapar tak bernyawa dengan dada berlubang dan mengeluarkan asap tipis.

“Adrian, semua baik-baik saja?” sesosok siluet itu tiba-tiba muncul dari balik pintu, lalu berjalan mendekat.

Pria berseragam yang dipanggil ‘Adrian’ itu tampak meringis menahan sakit, memegangi dada sebelah kirinya yang terus mengucurkan darah, “Tidak apa-apa, hanya luka kecil.” Jawabnya pelan.

***

  1. kania
    18/08/2010 at 6:07 pm

    Errrr… Endingnya maksudnya gimana ya?😮
    Keren ini…

  2. 18/08/2010 at 6:08 pm

    nice story! cool! i like it!😉

  3. 18/08/2010 at 6:12 pm

    Keren bang ceritanya, beda ama cerpen2 kebanyakan

  4. Jia
    19/08/2010 at 12:36 am

    Good job, I like it *sayup-sayup suara RC*

    Awalnya gw ngebayangin ini sbg fragmen untuk novel. Kayak prolognya gitu. Dan banyak celahnya menjadikan cerpen ini bisa dikembangkan lagi jadi cerpan.

  5. 20/08/2010 at 9:40 pm

    PusiIng

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: