Home > Fiksi > Aku Hanya Menelepon Untuk Mengatakan Aku Mencintaimu

Aku Hanya Menelepon Untuk Mengatakan Aku Mencintaimu

Jakarta, 14 Oktober 2009

“Aku mencintaimu.”

“Kamu sudah tahu jawabannya kan?”

“Aku tak butuh jawaban. Yang kukatakan barusan adalah pernyataan, bukan pertanyaan.”

“Jangan mulai lagi, Adam. Aku sedang tak ingin ribut.”

“Aku harus mengatakannya.”

“Untuk apa?”

“Agar kau tahu, kalau aku mencintaimu, hanya itu.”

“Kata-katamu seperti orang yang akan bunuh diri atau pergi jauh.”

“Memang.”

“Jadi kau akan bunuh diri.”

“Bukan bunuh diri, tapi pergi jauh. Dan kupastikan kau akan mencariku.”

*

Delapan jam yang sebelumnya

“Kemarin datanya sudah saya kirim ke alamatmu, ada kesulitan?”

“Sedang saya pelajari, Pak.”

“Ada yang perlu kau sampaikan?”

“Hmm.. Tidak ada!” Jawabku. “Bapak tunggu saja hasilnya di koran besok.”

“Bagus. Besok setelah jam makan siang akan saya lunasi kekurangannya.”

“Terimakasih, Pak.”

Sebuah amplop besar berwarna coklat. Berisi foto-foto pria berusia sekitar 50-an dalam berbagai ekspresi. Hampir semuanya adalah foto-foto yang diambil secara candid. Ada secarik kertas bertulis sebuah nama dan nomor telepon di atasnya. Aku memandangi kertas itu gamang. Tapi bagaimanapun ini harus kulakukan. Sekarang, atau tidak sama sekali. Membunuh, atau aku yang dibunuh.

*

Sekarang

“Aku mencintaimu.”

“Kamu sudah tahu jawabannya kan?”

“Aku tak butuh jawaban. Yang kukatakan barusan adalah pernyataan, bukan pertanyaan.”

“Jangan mulai lagi, Adam. Aku sedang tak ingin ribut.”

“Aku harus mengatakannya.”

“Untuk apa?”

“Agar kau tahu, kalau aku mencintaimu, hanya itu.”

“Kata-katamu seperti orang yang akan bunuh diri atau pergi jauh.”

“Memang.”

“Jadi kau akan bunuh diri.”

“Bukan bunuh diri, tapi pergi jauh. Dan kupastikan kau akan mencariku.”

“Adam, kau sahabat terbaikku. Tentu saja aku akan mencarimu, kau orang paling tulus yang pernah kukenal.”

“Ya, terimakasih. Tapi asal kau tahu, setelah percakapan di telepon ini berakhir, kau tak akan pernah lagi melihatku.”

“Sebentar, Adam. Ada telepon masuk. Tunggu sebentar..”

*

Setengah jam sebelumnya

Tak ada kesulitan berarti untuk memasuki rumah besar di ujung gang itu. Pagarnya tak terlalu tinggi, tanpa kawat berduri, tanpa anjing penjaga, dan satu-satunya satpam yang sedang bertugas juga sudah tertidur pulas dengan mulut menganga. Pintu rumah itu terbuka sedikit, aku melangkah masuk. Seorang pria tampak duduk di depan TV yang menyala dengan volume maksimal dan memutar tembang-tembang nostalgia.  Di meja kecil sebelah pria itu ada sebotol anggur dan gelas tinggi yang isinya tinggal separuh.  Aku berjalan makin mendekat ke arahnya, sementara lagu di TV sudah memasuki bagian reff.

I just called to say I love you
I just called to say how much I care, I do
I just called to say I love you
And I mean it from the bottom of my heart

I just called to say I love you
I just called to say how much I care, I do
I just called to say I love you
And I mean it from the bottom of my heart

*

Sekarang

“Ada apa?”

“Aku harus pulang ke rumah sekarang.”

“Kenapa?”

“Sesuatu yang buruk terjadi dengan ayahku. Yang barusan menelepon adalah pembantu rumah.”

“Penyakit jantungnya kambuh?”

“Semoga tidak.”

“Ya. Semoga tidak.”

***

  1. 06/09/2010 at 6:20 pm

    Bapaknya Adam yang dibunuh ya?

  2. iyank
    09/09/2010 at 4:52 am

    kill or to be kill, like this bang Ikal..
    yg dibunuh bapak cewek itu bang sam, CMIIW..

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: