Home > Fiksi > Cerita Kacau Dan Absurd Di Saat Yang Tidak Tepat

Cerita Kacau Dan Absurd Di Saat Yang Tidak Tepat

Saya melangkah keluar dari warnet antah berantah di kawasan Blok M itu. Waktu sudah hampir menunjukkan jam 11 malam. Mata saya sudah berat bukan main. Sekaleng Nescafe Classic ternyata sudah tidak bisa lagi melawan rasa  kantuk yang sudah mulai menyerang sejak satu jam yang lalu. Kalau bukan karena PC di rumah sedang error dan boss saya yang brengsek bukan main itu sudah mengancam deadline naskah harus masuk hari ini, pasti saya sudah pulang ke rumah sejak tadi.

“Mas, tuker lima puluh ribuan dong.” Kata suara itu tiba-tiba.

Saya terdiam, menoleh ke arah belakang, mencari asal suara itu, lalu menatap gadis itu takjub.Dia berambut hitam panjang, matanya sipit, kulitnya putih mulus bak pualam. Tingginya semampai, dan dadanya padat berisi. Mengingatkan saya pada Manohara Odelia Pinot, model yang pernah mengalami kisah cinta sadomasokis dengan pangeran bangsat dari Kelantan itu.

“Mas, tuker lima puluh ribuan.” Ulangnya.
“Hai.” Jawab saya.
“Hai juga. Tukar lima puluh ribuan!”

Saya cepat-cepat membuka dompet, lalu mengeluarkan selembar duapuluh ribuan, dua lembar sepuluh ribu dan dua lembar pecahan lima ribu, kemudian menyerahkannya ke gadis itu.

“Terimakasih.” Ujarnya cepat.
“Eh, sebentar.” Tukas saya.
“Kenapa? Saya kan sudah bilang terimakasih.”

Gadis menyebalkan.

“Kenalan dulu dong.”
“Aura.” Gadis itu mengulurkan tangannya yang ditumbuhi bulu halus.
“Adam.” Balas saya. “Kok terburu-buru sekali? Mau ke mana?”
“Kamu dari warnet ya?” Dia balik bertanya.
“Yes.”
“Pasti download bokep!”
“No! Sudah bukan zamannya.” Bantah saya tegas. “Kok kamu bisa menarik kesimpulan sepihak kayak gitu?”
“Feeling saja sih. Mas tampangnya mesum. Dari tadi juga mas nyuri-nyuri pandang ngeliatin dada saya.” Jawabnya kalem.

Sumpah demi setan! Saya makin shock mendengar jawaban si bidadari malam ini.

“Punya korek nggak?” Lanjut gadis itu.
“Nggak ada.” Jawab saya cepat. “Saya nggak pernah bawa korek.”
“Mas perokok bukan? Bibirnya item gitu!” Tanyanya kemudian.
“!@#$%^&”
“Kenapa nggak bawa korek?”
“Dalam rangka mengurangi rokok sih.” Jawab saya.
“Maksudnya?” Dia kembali bertanya.
“Tidak membawa korek, itu salah satu tips untuk mengurangi rokok.”
“Sebenarnya ada cara yang lebih mudah.”
“Apa?” Tanyaku.
“Nyari pacar, dan dirokok sama pacar.”

Apa perbuatan yang dibenci Tuhan dan dibenci setan?
Memperkosa anak setan!

Binatang apa yang paling haram?
Babi hamil, karena mengandung babi.

Kenapa Superman terbang?
Kalau di darat, Sopir Man!

Nah, tiga pertanyaan dan jawaban di atas menurut saya sama garingnya dengan lelucon yang dilontarkan gadis ini barusan. Untung gadis ini bisa dikategorikan dalam golongan cantik dan menggoda, jadi saya masih menahan diri untuk tidak cepat-cepat menyingkir karena kegaringan yang ditampilkannya di tengah malam buta ini.

“Bagaimana kalau nggak punya pacar?” Tanya saya.
“Sepertinya saya bisa jadi pacar sementara untuk malam ini.”

Akhirnya malam itu kantuk saya benar-benar hilang.

***

Categories: Fiksi Tags: , ,
  1. 06/09/2010 at 6:25 pm

    Kalau diterusin jadi stensilan nih🙂

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: