Home > Fiksi > Arjuna Mengejar Cinta

Arjuna Mengejar Cinta

Lagi-lagi disorientasi arah membuatku kebingungan harus berjalan ke mana.

Kalian tahu patung Arjuna Wijaya di Jalan Merdeka Barat, dekat Monumen Nasional? Di sana ada Arjuna dengan busur dan panahnya di atas kereta, dengan Bathara Kresna sebagai saisnya. Di depan kereta, delapan ekor kuda yang melambangkan delapan unsur berlari kencang dan mengantarkan dua ksatria itu menuju medan perang Baratayudha. Ya, tepat di seberang patung itulah aku berdiri sekarang.

 

“Kau kenapa, anak muda?” suara cempreng bapak penjual kopi yang sedang menuntun sepedanya itu tiba-tiba muncul dari belakangku. Aku tersentak, kemudian menatapnya curiga dari ujung kaki hingga ujung rambut.

“Saya hanya.. Hmm.. nyasar.”

“Nyasar? Memangnya kau mau ke mana?” tanya bapak itu menyelidik.

“Dua hari yang lalu, di depan gedung itu…”

“Jadi kau sudah nyasar sejak dua hari yang lalu? My God!” kata bapak itu sambil menepuk jidat dengan kedua tangannya. Untung dua detik kemudian dia langsung sadar karena sepedanya akan roboh jika tangannya terus digunakan untuk menepuk jidat.

 

“Bukan. Dengar dulu saya bicara, pak.” kataku sambil menahan senyum.

“Oh, baik.”

“Dua hari yang lalu, di depan gedung itu,” ulangku sambil menunjuk ke gedung tinggi berbentuk aneh yang terletak persis di seberang tempatku berdiri itu. “Saya bertemu seorang perempuan.”

“Lalu?”

“Yang pasti dia cantik, saya jatuh cinta, dan saya yakin kalau dia juga merasakan hal yang sama.”

“Hebat! Percaya dirimu sangat hebat! Lanjutkan ceritamu, nak.” Kata bapak itu sambil bertepuk tangan.

 

Plok! Plok! Plok!

 

Kali ini sepedanya tidak bergerak. Bapak itu rupanya sudah belajar dari pengalaman sebelumnya. Sepeda tua itu kini sudah terparkir di pinggir trotoar dengan standar diturunkan.

 

“Waktunya saat menjelang senja, saat banjir dan macet memporakporandakan Jakarta. Saya membantunya menyeberang ke sana.” Jelasku. Tanganku kembali menunjuk ke sebuah arah.

“Jadi kau jatuh cinta pada nenek-nenek buta?”

“Tolong ya, pak. Dengarkan dulu cerita saya!”

“Oh, maaf.”

 

“Dia sepertinya sedang tidak sehat.” Lanjutku. “Mungkin darah rendahnya kambuh, mungkin juga sedang PMS, atau semacam itu. Waktu itu dia tampak gelisah, gemetaran, pucat dan berkeringat dingin. Lalu saya membantunya menyeberang.”

“Kalian bergandengan tangan?”

“Tentu saja tidak, Pak. Mana mungkin saya berani menjamah perempuan yang baru saya kenal? Saya hanya mengajaknya berkenalan, menawarkan menyeberang jalan bersama-sama, lalu berjalan di sampingnya. Melindunginya dari mobil lalu lalang dan pengendara motor yang saat itu semuanya terlihat seperti gila.”

“Wajar. Banjir dan macet memang selalu membuat gila.”

“Tapi saya hanya mengantarnya sampai ke sana,” jelasku. Tanganku kembali menunjuk ke sebuah arah.

“Ke mana?”

“Ke sana.”

“Barat? Timur? Utara? Selatan?”

“Pokoknya ke sana.” Sahutku tak sabar. Lagi-lagi tanganku menunjuk ke sebuah arah. “Saya mengantarnya ke sana, dia menolak saat saya tawarkan menemani berjalan sampai ke rumahnya.”

“Lalu, untuk apa kau bengong di sini sekarang?”

“Saya merindukannya, saya ingin bertemu dia. Tadinya saya berharap akan menemukannya di sini, tapi sekarang saya tak tahu ke mana harus mencarinya, Pak.”

“Kalian tak saling menyebutkan nama? Nomor telepon? Account facebook?”

“Kami berkenalan, Pak. Saya tahu namanya, dia juga tahu nama saya.”

“Siapa?”

“Namanya Aura.”

”Ooh, Aura.”

“Bapak kenal?”

“Tidak.”

“…….”

 

Bapak itu menyalakan rokoknya, menghisapnya dalam-dalam, kemudian menghembuskan asapnya perlahan.

 

“Kau lihat patung itu, Nak?” bapak itu menunjuk ke patung Arjuna Wijaya.

“Ya. Apa maksudnya?”

“Kira-kira, ke arah mana kereta itu akan bergerak?”

“Tentu saja ke sana, pak.” Jawabku.

“Ya. Ke mana?”

“Ke sana!” ulangku.

“Barat? Timur? Utara? Selatan?”

“Begini, Pak. Saya memang tak paham arah. Saya sering kesulitan menyebutkan mana barat, timur, utara dan selatan. Tapi mata saya masih bisa melihat dengan baik. Tentu saja kereta itu akan bergerak ke sana.” Jawabku.

“Berarti kau belum paham, nak.”

“Belum paham bagaimana?”

“Kalau tentang arah saja kau tak mengerti, bagaimana kau bisa tahu ke mana harus mengejar cinta?”

 

***

 

  1. 07/12/2010 at 11:03 am

    Penjual kopinya nyebut “my God”..dan tau account fesbuk🙂 I’d rather..”Ya Tuhan or ya ampun!”..and “fesbuk” tanpa akun.

  2. aulia soemitro
    19/01/2011 at 10:13 pm

    Aku suka banget yang ini mas ikal🙂

  3. 30/03/2011 at 3:27 am

    sumpah, ini keren banget k!!!! :))

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: