Home > Fiksi > Malam Itu, Pacarku Tak Jadi Datang

Malam Itu, Pacarku Tak Jadi Datang

Aku tak tahu kenapa, tapi menurutku ruang studio foto ini terasa aneh.

Dindingnya berlapis wallpaper coklat bermotif kayu. Pendingin ruangannya disetel maksimal dan mengeluarkan hawa dingin yang sedikit tak wajar. Sebuah sofa tua berwarna merah, dua lampu studio yang dilengkapi dengan payung berwarna hitam, serta sebuah kursi kayu dan meja besar yang terbuat dari kayu jati di sudut ruangan. Ada sebuah rak CD di atas meja itu, sepasang speaker, dan sebuah komputer jadul dengan layar menampilkan Windows Media Player, dan beberapa lagu terpasang di playlistnya. Aku mengambil duduk di sofa, pacarku duduk di sebelahku. Bapak fotografer itu mengambil sebuah kursi kayu dari sudut ruangan.

 

“Itu komputer untuk mengedit foto?” tanyaku sedikit heran.

“Tentu saja bukan, nak.” jawab bapak fotografer. “Untuk mengedit foto, saya punya komputer lain yang lebih canggih.” lanjutnya. “Komputer yang itu hanya dipakai untuk memutar lagu. Pembangkit mood mereka yang akan berfoto di sini.”

“Pembangkit mood?”

“Beberapa pasangan membutuhkan lagu tertentu untuk membangkitkan memorinya. Mungkin itu lagu bahagia mereka, lagu yang punya banyak kenangan, atau lagu yang membuat mereka tetap langgeng sampai sekarang.”

“Memang ada ya pasangan yang cintanya bergantung pada lagu?” tanyaku lagi.

“Banyak, nak.”

“Hmm.. It’s so drama.” Ucapku. “Bukan begitu, sayang?” aku melirik ke pacarku. Dia mengangguk, lalu tersenyum.

 

Pandanganku kembali menyapu ke sesisi ruangan. Foto beberapa pasangan dalam berbagai rupa, kostum dan pose terpasang dalam bingkai-bingkai kecil dan terpasang di dinding. Wajah-wajah yang tak kukenal itu tampak tersenyum bahagia.

 

“Itu semua? Bapak sendiri yang mengambil gambarnya?” tanyaku.

“Tentu saja, nak.”

“Semuanya bagus. Dan orang-orang itu tampak bahagia sekali.”

“Itulah yang kusuka dengan pekerjaanku. “ ujar bapak itu antusias. “Mereka datang ke sini dengan cinta. Kau tahu? Aku bisa melihat mana pasangan yang saling mencintai dengan tulus. Dan mana pasangan yang cintanya palsu.” lanjutnya.

“Bapak serius?”

“Tentu saja tidak, nak. Bapak hanya tukang foto, bukan peramal.” jawabnya sambil tersenyum.

“Kalau begitu, saya dan pacar saya mau berfoto sekarang.”

“Sekarang?”

“Kenapa tidak?”

“Kau tidak bercanda kan? Mana pasanganmu?”

 

Refleks aku kembali melirik ke sebelahku, tapi tak ada siapa-siapa di sana.

 

“Tapi tadi dia di sini dan duduk di sebelah saya.” jawabku. “Bapak juga melihatnya kan? Saya datang ke sini berdua dengan dia.”

 

Bapak itu menatapku dengan sedih. “Sejak kita masuk ke ruangan ini, bapak tidak melihat siapa-siapa lagi selain kamu, nak.”

 

“Tapi dia berjanji akan datang,” aku mulai terisak. “Hari ini dia pasti datang, meski hanya sebentar.”

“Ceritakan padaku, nak. Apa yang terjadi dengan pacarmu?”

“Hari ini setahun yang lalu..”  jawabku terbata-bata. “Dia seharusnya datang ke rumah saya, tapi sebuah truk dengan sopir yang sedang mabuk menabraknya saat menyeberang.”

 

***

 

Categories: Fiksi Tags: ,
  1. 07/12/2010 at 10:55 am

    Aku suka bagian komputer berisi lagu2 utk membangun mood🙂

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: