Home > Fiksi > Menunggu Kekasihnya

Menunggu Kekasihnya

“Tempat ini bernama jembatan Siti Nurbaya,” Kata kakek yang duduk sendirian di trotoar itu sambil menyalakan batang rokoknya yang kesekian. “Ini jembatan saksi cinta.” lanjutnya.

 

Aku terdiam sejenak, lalu menatap ke seluruh penjuru jembatan yang di kanan kirinya terpasang lampu-lampu jalan yang artistik itu.  Di atas trotoar, para penjual jagung bakar, roti bakar, kopi dan aneka minuman botol tampak sibuk melayani pembeli, – kebanyakan adalah pasangan muda-mudi. Ada yang saling menggengam tangan, ada yang merangkul pundak pasangannya, ada juga yang terlihat sedang berusaha mencuri cium. Langit yang sedang bulan purnama menambah hawa romantis bagi pasangan-pasangan yang terlihat sedang dimabuk cinta itu.

 

“Kakek sendirian?” tanyaku pada kakek itu.

“Tidak. Saya sedang menunggu istri saya,” jawabnya.

“Istri kakek ada di mana?”

“Di sana,” jawabnya sambil menunjuk ke salah satu sudut tempat penjual jagung bakar. Perempuan yang ditunjuk menoleh ke arahnya sebentar, lalu tersenyum. Entah kenapa aku ikut bahagia melihatnya. Di mataku, senyum nenek itu terlihat sangat tulus dan menyejukkan.

 

“Eh sebentar,” kata kakek itu tiba-tiba. “Tapi kau tahu Siti Nurbaya kan, anak muda?” tanyanya.

“Tentu saja tahu, Kek.” Jawabku.

“Siapa coba?”

“Tokoh fiksi buatan Dhani Ahmad.”

“Bukan, anak muda. Kau ngawur sekali.”

“Lalu siapa, Kek?”

“Itu dari roman karya Marah Roesli.”

“Siapa yang marah, Kek?”

“Tolong hentikan.”

“Apanya?”

“Jayusnya. Tolong hentikan. Kan saya bilang Marah Roesli. Jangan bilang kau juga tak kenal dia.”

“Oh, maaf.” Ujarku sambil menahan senyum. “Saya bercanda..”, lanjutku. ”Saya hanya tahu sedikit tentang cerita Siti Nurbaya. Saya belum pernah membaca bukunya.”

“Di tempat ini, dulu Samsul Bahri menunggu kekasihnya,” lanjut kakek itu seperti tak mengindahkan perkataanku.

“Siti Nurbaya?” tanyaku.

“Bukan. Paris Hilton,” jawab kakek itu dengan muka sebal. “Tentu saja Siti Nurbaya, anak muda.”

“Maaf, kek. Saya akan nggak jayus lagi sekarang.” Ujarku.

“Tapi sayang sekali, malam itu Siti Nurbaya tak jadi datang.”

“Kenapa, Kek?”

“Meskipun terpaksa, Siti Nurbaya akhirnya lebih memilih menikah dengan Datuk Maringgih.”

“Kenapa? Bukankah mereka, Siti Nurbaya dan Samsul Bahri saling mencintai? Kenapa mereka tak menikah? Kenapa mereka mudah menyerah?”

 

“Karena..”, kakek itu terdiam sebentar, menghisap rokoknya dalam-dalam, lalu menghembuskannya asapnya dengan nikmat. “Karena Samsul Bahri hanya menunggu, bukan mendatangi..” Pungkasnya sambil tersenyum kemudian berjalan ke arah istrinya yang sudah menunggunya.

 

***

 

The Sriwijaya Hotel, Padang

22 Oktober 2010

Categories: Fiksi Tags: ,
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: