Home > Fiksi > Cintaku Tertinggal Di Sarinah

Cintaku Tertinggal Di Sarinah

Senja itu, aku merindukan cintaku.

Rinduku kali ini berbeda dengan rindu seperti biasanya. Yang ini teramat sangat. Membuat hatiku sesak, dan merasa seakan-akan akulah lelaki paling galau, paling malang, dan paling rapuh sedunia. Aku ingin menangis, aku ingin sekali bertemu dengan cintaku, lalu menggenggamnya erat-erat agar rinduku terobati, dan hatiku bisa tersenyum kembali seperti biasanya.

 

Jadi senja  itu sepulang kantor, ketika hujan deras mengguyur Jakarta, aku yang tanpa payung dan tanpa jaket, langsung berlari dengan semangat  dari kantorku, lalu menuju ke halte Harmoni ini. Berbaur bersama ratusan wajah-wajah lelah dan kusut yang mengantri. Aku akan naik Transjakarta, berhenti di halte yang tak jauh dari sini, lalu mendatangi tempat pertama kalinya aku menggenggam cintaku. Siapa tahu masih ada sisa-sisa rindu yang bisa mengobatiku di sana.

 

“Pemberhentian berikutnya, halte Monumen Nasional. Periksa kembali barang bawaan Anda, dan hati-hati melangkah. Terima kasih,” kata suara yang terdengar dari speaker itu.

 

Bis Transjakarta yang kutumpangi kini berhenti di halte Monas. Beberapa orang yang berdiri di dekat pintu melangkah keluar, lalu digantikan dua orang bapak, seorang ibu, dan seorang gadis berseragam PNS yang masuk lewat pintu berikutnya. Petugas Transjakarta menutup pintu bis, lalu Transjakarta kembali bergerak pelan.

 

Pandanganku menerawang. Di kiri jauh tempatku berdiri, aku melihat api yang menyala di puncak Monumen Nasional itu. Api yang selalu kulihat tiap hari dari jendela ruang kerjaku di lantai 3. Sebuah api cinta, begitu kata orang-orang. Mungkin juga itu sebuah api penyesalan yang tak pernah padam. Api itu tetap menyala, meski diterpa panas dan hujan, meski negeri ini sudah beberapa kali berganti penguasa.)*  Tapi bagiku, api itu adalah rindu yang selalu menyala. Betapa aku merindukan cintaku, dan ingin selalu bersamanya.

 

Ingatanku kemudian mengarah ke waktu itu. Dua bulan yang lalu menjelang senja, saat Jakarta sedang kacau dan porak poranda. Hujan deras yang turun sejak siang hingga sore hari membuat banjir dan macet di mana-mana. Saat  itu aku membuat janji bertemu dengannya, di seberang patung Arjuna Wijaya. Dan cintaku, dia sudah menungguku di sana. Tepat di seberang patung Arjuna dan Bathara Kresna di atas kereta yang berangkat menuju perang Baratayudha itu.  Aku menggenggam tangannya, lalu menyeberang menuju jalan ke Wisma Antara, melintasi Kebon Sirih, melewati puluhan wajah-wajah lelah, gelisah dan marah yang merutuki kacaunya Jakarta sore itu.

 

“Pemberhentian berikutnya, halte Bank Indonesia. Periksa kembali barang bawaan Anda, dan hati-hati melangkah. Terima kasih.”

 

Suara itu kembali membuyarkan lamunanku. Di halte ini tak ada yang turun. Namun ada dua orang perempuan berseragam pegawai, dua orang yang terlihat seperti sepasang kekasih, dan beberapa remaja tanggung berkostum timnas Indonesia melangkah masuk. Aku menggeser posisi berdiriku lebih mendekat ke pintu. Pandanganku langsung menuju ke tempat itu, Djakarta Theater, tempat aku dan cinta duduk di kursi paling belakang, tepat di bawah ruang proyektor dan kugenggam tangannya untuk pertama kalinya.

 

“Pemberhentian berikutnya, halte Sarinah. Periksa kembali rindu Anda, dan hati-hati mencintanya. Terima kasih.” Kata suara itu.

“Ya. Terima kasih.” Ucapku dalam hati sambil melangkah keluar.

 

***

)* Dari cerpen ‘Api Yang Tak Pernah Padam’ (Fajar Nugros)

Categories: Fiksi Tags: , , ,
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: