Home > Fiksi > Cinta Terakhir Di Cintanya

Cinta Terakhir Di Cintanya

Oke, Bay. Sekarang jelasin kenapa lo ngajak gue ke tempat ini, tengah malam begini?”

“Ini belum tengah malam,” jawab laki-laki lawan bicaraku itu. “Masih ada beberapa menit lagi,” tambahnya.

Aku melirik jam di pergelangan tangan kiriku, masih jam 11 lewat sebelas menit. Waktu yang tepat untuk mengatakan rindu kepada orang yang kita sayang. Itu mitos yang sering aku baca dan dengar dari kalangan teman-teman di twitter circleku.

“Gue akan mengalami hal yang luar biasa malam ini,” jelasnya. “Sebuah kabar bahagia, dan lo harus jadi orang pertama yang mendengarnya.”

“Hah? Kenapa harus gue?”

“Karena ini hal yang sangat luar biasa,” jawabnya. “Dan sebagai teman terbaik, lo harus jadi orang pertama yang tahu.”

“Hmm..”

“Gue mau nelepon Maya!”

“What?” aku makin tak habis pikir. “Yang seperti itu lo bilang luar biasa?”

Baik, sebelum kulanjutkan ceritaku, ada baiknya kuberitahukan dulu fakta-fakta ini pada kalian.

Sekarang sudah mendekati tengah malam. Kami sedang berada di pinggir jalan, -tepatnya di halte bis kota yang letaknya persis di depan Monumen Nasional, sambil menikmati kopi dalam gelas plastik yang kami beli dari penjual kopi bersepeda. Orang yang sedang bersamaku ini bernama Bayu. Dia temanku, dan perempuan bernama Maya adalah pacarnya sejak setahun terakhir. Satu fakta lagi yang juga harus kalian tahu, Maya bekerja sebagai call center di sebuah perusahaan seluler. Pekerjaannya tentu saja mengangkat telepon dan melayani keluhan customer tentang banyak hal. Mulai dari saran, keluhan, kritik, komplain, cacian, makian, bahkan kadang juga pria-pria hidung belang yang iseng mencari mangsa dan mencari teman tidur.

“Gue mau coba telepon Maya,” ulang Bayu.

“Ke nomor call center? Lagi?”

“Yes.”

“Gila! Bukannya selama ini lo gak pernah berhasil?”

“Memang. Selama ini gue udah sering coba, dan selalu bukan dia yang mengangkat teleponnya.”

“Pikirkan ini, Bay. Petugas call center nggak cuma Maya, customer yang nelepon jam segini juga nggak cuma lo. Kecil sekali kemungkinan lo bisa ngobrol sama pacar lo di jalur call center.”

“Ya, gue tahu. Tapi ini sama sekali bukan masalah kemungkinan.”

“Keyakinan dan sugesti?” tanyaku.

“Bukan juga.”

“Lalu?”

“Hati dan cinta.”

Sungguh, aku tak bisa berkata-kata lagi mendengar jawaban Bayu yang absurd barusan.

“Oke. Malam ini lo akan jadi saksinya,” cetus Bayu lagi. Tangannya kemudian menekan sebaris nomor di handphonenya, dan tak lama kemudian sudah ada jawaban dari seberang sana.

“……”

“Ya. Selamat malam, Mbak Maya.” Jawab Bayu dengan suara yang diberat-beratkan. Dia mengacungkan jempolnya, lalu melirik dan tersenyum lebar ke arahku. Aku terperangah dan geleng-geleng, tak menyangka dengan kebetulan yang sangat-sangat jarang terjadi ini.

“……”

“Ada, Mbak.” kata Bayu dengan nada datar, masih dengan suara yang diberat-beratkan.

“……”

“Tidak mbak…”

“……”

“Mmm..bukan juga mbak..”

“……”

“Jadi, saya mau minta tolong sama mbak Maya..” ujar Bayu. Kali ini nada bicaranya mulai serius.

“……”

“Tolong jawab pertanyaan saya ya, Mbak.”

“……”

“Anindya Maya Safitri,” Bayu memelankan suaranya. “Maukah kamu menjadi pilihanku, menjadi yang terakhir dalam hidupku. Maukah kau menikah denganku?” lanjutnya. Kali ini sudah dengan suara normal, suaranya sendiri, bukan suara yang diberat-beratkan.

“……”

“Aku pertegas ya, Nyit…” tambah Bayu lagi. “Sayangku, Anindya Maya Safitri. Maukah kamu menikah denganku?”

“……”

Yeah, ‘Nyit’ adalah panggilan sayang Bayu terhadap perempuan yang sangat dicintainya itu. Saat ini tentu saja aku tak bisa mendengar apa jawaban Maya di seberang sana. Tapi melihat raut Bayu yang mendadak terlihat sangat bahagia seperti habis menang undian bermilyar-milyar, rasanya tak perlu lagi aku bertanya. Kabar yang disebut Bayu sebagai hal luar biasa itu tinggal menunggu waktunya, tentang cinta terakhir di kisah cinta mereka.

***

Ditulis untuk Galuh Parantri

Diadaptasi dari cerpen ‘Miss Ringring’ oleh Galuh Parantri

Categories: Fiksi Tags: , ,
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: