Home > Fiksi > Epilogue

Epilogue

“Pacarmu yang sekarang cantik sekali. Kemarin aku melihatnya di facebook.” Ujarnya sambil tersenyum. Teras toko 24 jam itu sudah mulai sepi. Hanya ada beberapa bule terlihat sedang bercengkrama sambil menikmati bir dan kripik kentang, serta dua pasang muda-mudi sedang bermain UNO di atas meja-meja kecil berpayung. “Foto kalian berdua,” lanjutnya kemudian.  “Dengan t-shirt lengan panjang bertulis ‘Kugenggam Tangannya Di Transjakarta’, berbeda warna. Kamu memakai warna putih, pacarmu memakai warna hitam.”

“Bagaimana kamu yakin dia pacarku?” aku bertanya.

“Senyum bahagia di wajah kalian. Tak bisa disembunyikan.”

“Hahaha.. Terima kasih.” Ujarku. “Tapi bukannya facebookmu sudah tidak aktif?”

“Aku melihatnya dari facebook temanku.”

“Dasar stalker!” ledekku.

“Biarin.”

“Tapi dia bukan pacarku.” Jelasku.

“Pacar juga nggak apa-apa.”

“Serius. Dia bukan pacarku.”

“Calon pacar?” tanyanya.

“Nanti pada saatnya, pasti akan kuceritakan.”

“Dia cantik, baik dan menyenangkan. Pasti kamu tak kesulitan untuk mencintainya.”

“Kamu tahu kan? Bukan hanya cantik, baik dan menyenangkan yang bisa membuatku jatuh cinta.”

“Iya. Aku tahu. Kau sudah pernah menceritakannya.”

“Malam itu, aku bicara dengannya di telepon. Dan dia menggunakan kata ‘kita’ untuk pengganti kata aku dan dia, lalu aku bahagia.)* Sederhana kan?”

“Jadi benar dia pacarmu?” tanyanya lagi.

“No comment.”

“Comment juga nggak apa-apa.”

“Kamu,” aku terdiam sejenak sambil menatap kedua mata bening itu.”.. nggak berubah.”

“Kamu juga nggak berubah,” balasnya pelan.

Berikutnya, kami sama –sama terdiam. Ada jeda sekian menit yang mulai membuat canggung. Aku mengambil rokok dari saku jaket, mengambilnya sebatang, menyalakannya, lalu menggeser posisi dudukku agak menjauh darinya.

“Kamu? Tumben kelayapan ke sini?” ujarnya memecah keheningan. “Jangan bilang lagi nyasar.”

“Aku sudah mau pulang ke rumah. Tadi ada meeting di rumah teman yang tak jauh dari sini. Aku hanya mampir untuk membeli hot chocolate. Buat ngilangin galau di malam hujan kayak gini.”

“Hanya ingin mampir? Ke tempat yang kamu tahu selalu jadi tempat pelarianku saat lagi galau? How come?”

“Hahaha.. Ge er!” tawaku meledak. “Memangnya kamu lagi galau?”

“Nggak. Kali ini cuma lagi pengen sendirian” jawabnya.”Lagi pengen mikir dengan tenang.”

“Berantem sama pacar?”

“Sok tahu!”

“Hahaha.”

Kembali ada jeda yang membuat canggung. Namun kali ini tak terlalu lama.

“Hujannya sudah berhenti. Aku mau pulang.” Katanya tiba-tiba.

“Masih gerimis.”

“Sudah agak reda. Aku harus istirahat. Besok masuk kantor lebih pagi dari biasanya.”

“Perlu kuantar sampai ke depan rumahmu?” tawarku.

“Yuk.”

Dan perjalanan singkat ke rumahnya dini hari itu terasa menjadi akhir untuk sebuah awal yang baru. Jalanan yang masih basah dan mengkilat, hujan yang belum sepenuhnya reda, tapi masih menyisakan rintik-rintik halus bagai jutaan benang yang turun dari langit. Aku berjalan di sampingnya, masih dengan senyum yang sama, namun kali ini tanpa menggenggam tangannya, dialuni suara Duta Sheila On 7 dari music player di saku kemejaku.

Semoga kita selalu menjadi sebuah kisah klasik untuk masa depan..

***

)* Dari tweet Alvin Agastia Zirtaf

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: