Home > Fiksi > Hariku Bersamanya

Hariku Bersamanya

Jadi, kamu sudah baca draftnya?

Sudah.

Bagaimana?

Overall bagus. Ada haru, romantis, cinta, meski banyak yang kayak curhat habis-habisan.

Hahaha.. Sial.

Tapi benar kan?

Cuma sebagian. Lebih banyak cerita yang difiksikan.

Difiksikan bagaimana?

Disesuaikan dengan,..hmm.. apa ya?

Itu kado valentine buat mantan pacar kamu. Benar?

Hmm..

Kok ‘Hmm..’?

Hmm..

Baiklah, kembali ke topik semula aja. Anyway, aku suka kalimat di cerita terakhir draftmu.

Yang mana?

‘Karena Samsul Bahri hanya menunggu, bukan mendatangi.’

Hahaha..

Kenapa tertawa?

Itu bukan kalimatku. Hanya adaptasi dari kalimat lain yang ada di cerpen sejenis, di blog temanku.

Sejenis? Gay dong..

Hahaha… Bukannn…  Itu dari kalimat lain bunyinya ‘Kalau saling menunggu, siapa yang mendatangi?’

Ngena banget. Cerpennya tentang apa?

Tentang seorang laki-laki yang mengejar cintanya hingga keliling Jakarta.

Hmm..

Kok sekarang kamu yang bilang ‘Hmm..’?

Nggak. Btw, beberapa cerita juga membuatku sampai tertawa-tawa saat membacanya.

Syukurlah.

Kenapa?

Setidaknya aku berhasil membuatmu tertawa.

Lalu?

Karena bisa membuatmu tertawa, bagiku itu surga.

Gombal gagal! But nice try!

Jadi kamu bisa datang bersamaku kan?

Tadi kapan acaranya?

Tanggal 6 besok.

Kita akan bertemu di mana?

Kita?

Maksudmu?

Forget it! Sebaiknya kita ketemu di Halte Bank Indonesia!

Itu di mana?

Ya Tuhan. Jadi kamu nggak tahu halte Bank Indonesia?

Aku jarang naik busway.

Maksudmu bis Transjakarta?

Whateverrrrrrr…

PET!

Layar handphoneku mati.

Baterai yang tadinya sekarat, -dan sekarang benar-benar habis- akhirnya menghentikan chat singkat via DM twitter dengan perempuan yang kukenal tiga bulan lalu itu. Mungkin memang aku harus cepat pulang, kembali ke kost, lalu mencharge handphone untuk melanjutkan obrolan tak tentu arah barusan.

Aku bangkit dari tempat dudukku, kemudian berjalan menuju kasir untuk membayar kopi dan roti panggang pesananku. Dari luar kedai kopi, sayup-sayup terdengar suara fals pengamen yang sedang menyanyikan lagu Sheila On 7. Ya. Benar-benar fals dan menjurus hancur, tapi masih cukup untuk membuat aku tersenyum-senyum sendiri malam itu.

Lancarkanlah hariku..

Hariku bersamanya, hariku bersamanya..

***

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: