Home > Fiksi > Setelah Bumi Hancur

Setelah Bumi Hancur

“Tolong katakan dengan jelas, siapa nama perempuan yang kau cari itu, anak muda?” tanya pria berseragam biru yang duduk di balik meja informasi itu kepadaku. Aku tak langsung menjawab. Kepalaku masih pusing serasa baru dihantam jutaan palu godam. Dalam ruangan seukuran hangar pesawat terbang ini aku tak sendirian. Ada lebih dari seribu orang yang juga sedang mengantri di depan meja-meja informasi dan mengalami kebingungan yang sama denganku  sekarang.

“Saya beri waktu kamu ceritakan pelan-pelan. Apa saja yang kamu ingat tentang perempuan itu?” tanya petugas itu kemudian.

“Sebentar,beri saya waktu untuk mengingatnya.”

“Ceritakan apapun yang kau ingat tentang dia. Pekerjaannya, sifatnya, hal-hal yang menjadi kesukaannya, apa saja lah. Terserah. Saya akan coba bantu.”

“Memang databasenya bisa sampai selengkap itu?”

“Kau mau dibantu atau tidak?” tanya petugas itu sebal.

“Oh, baik.”

“Oke. Silakan.”

“Dia partner saya.” Aku mulai bercerita. “Perempuan yang menyangka dirinya adalah rockstar. Penggemar langit sore. Hobinya segala yang berhubungan dengan fotografi. Dan pekerjaannya adalah…”

“Fotografer?” potong petugas itu

“Bukan.”

“Lalu?”

“Pekerjaannya sama dengan saya. Kami nggak punya kantor. Kami hanya bekerja kalau ada permintaan..”

“Saya jelaskan ya, anak muda.” Ucap petugas itu cepat. “Waktumu tak banyak. Masih ada banyak orang yang harus saya layani.”

“Baik,” jawabku. “Saya dan dia adalah sepasang pembunuh freelance.”

“Pembunuh bayaran maksudmu?” tanya petugas itu dengan nada datar dan wajah tanpa ekspresi. Seakan pekerjaan ‘pembunuh bayaran’ adalah hal yang biasa saja baginya.

“Yes. Kami sepasang pembunuh bayaran.”

Petugas itu kembali mengetikkan sesuatu keyboard komputernya.

“Ada lagi yang kau ingat?”

“Saya pernah mencari tahu tentang arti namanya di Google.” Jelasku. “Namanya bagus. Artinya Mengerti orang lain. Lembut, baik, pekerja keras. Penuh semangat, mudah beradaptasi. Selalu diberkati. Menarik dan perhatian. Ekspresif, ceria. Artistik, memiliki selera yang bagus. Memiliki kemampuan berbicara yang baik. keuangan naik turun. penolong, penuh keyakinan.”

“Oke, cukup.” Ujar petugas itu. “Pasti ini perempuan yang kau cari,” lanjutnya. “Bersyukurlah, dia juga selamat. Pesawatnya yang membawanya sedang menuju ke sini. Tunggu 1-2 jam lagi.” Tambah petugas itu. Dia lantas menunjukkan foto perempuan cantik di layar monitor itu kepadaku. Tertulis nama dan sebaris angka kode di sana;

PRISKILA EIRENE

XC9878

***

Ditulis untuk kado farewellnya Kila yang mau cabut ke Kanada.

Smashing Pumpkins – Perfect #nowplaying

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: